MENJAGA OTAK TETAP "BEROTOT"

   Usia 40-an sering dianggap awal munculnya gejala pikun karena orang mulai seringlupa. Padahal,"Memasuki usia 40-an, daya ingat seseorang rata-rata masih normal, kecuali pernah mengalami stroke, cedera otak berat, atau lainnya. Banyak orang usia 40-an tahun yang sedang naik daun, sibuk dengan pekerjaan kantor atau urusan bisnis. Begitu bangun tidur, yang menyesaki otak hanyalah hal-hal besar yang perlu di lakukan pada hari itu. Oleh karena itu, yang kecil-kecil kerap terabaikan. Bisa jadi, itu antara lain bidang keladi sifat pelupa. Hal ini masih normal. Bukan gejala penurunan daya ingat (pikun), melainkan kurang konsentrasi saja.
   Banyak kejadian yang menunjukkan fungsi luhur seseorang, dapat dikatakan, sudah menurun. sebagai contoh, marah-marah mencari uang yang katanya hilang, padahal tersimpan di saku. Sibuk mencari kacamata, ternyata masih menempel di kepala. Pakai lipstik sampai keluar bibir, sering lupa menutup resleting celana, bingung mengurus tiket di bandara, dan lain-lain.
   Menjadi pikun ada prosesnya. Dari normal menuju pikun harus melalui tahap prapikun. Kalau tidak dijaga, bisa menjurus ke arah pikun. Tidak terelakkan, memasuki usia 50 tahun, fungsi organ dalam tubuh, termasuk otak, menurun. Berat otak orang dewasa sekitar 1,3 kg. Di usia setengah abad itu, beratnya mengurang tinggal 1,2 kg karena menyusutkan kadar air.
   Namun, tak perlu waswas. Beranjak tua tidak berarti harus menjadi kakek atau nenek pikun. Paling-paling, daya ingat sedikit anjlok. pikun baru terjadi bila otak mengalami penciutan. akan tetapi, dengan gaya hidup sehat, risiko kepikunan dapat dihalau. Sebelum memasuki tahap prapikun, di harapkan agar kita melakukan pencegahan pertama. caranya adalah makan seimbang, berhenti merokok, menghindari minuman beralkohol, berolahraga teratur, menghindari stres, serta meluangkan waktu untuk berekreasi.
   Jika gejala pikun sudaah mulai tampak, segera atasi dengan, misalnya, banyak melakukan senam menyilang (tangan dan kaki digerakkan menyilang secara bergantian) agar otak kiri dan kanan bekerja seimbang, lebih banyak membaca, mengisi teka-teki silang, lebih memperhatikan pola makan sehat, dan tetap aktif berorganisasi sosial.
   Untuk menambah "kekuatan" otak, konsumsilah vitamin E tiap hari, juga vitamin C. Namun, hendaknya, tidak dikonsumsi berlebihan agar tidak mubazir, terutama vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C. Jika terlalu banyak, malah akan di buang bersama urine.